Loading...
Opini

Darurat Pelanggaran HAM : Sikap Anarkis Dan Fanatis Oknum Fans Klub Sepak Bola Indonesia Renggut Hak Hidup Warga Negara

Kematian Haringga Sirla menambah panjang daftar kelam suporter Tanah Air. Pada tahun lalu di tempat yang sama, Ricko Andrean juga menjadi korban salah keroyok usai duel kompetisi Liga 1 2017 antara Persib Bandung Vs Persija Jakarta, Sabtu 22 Juli 2017. Data Save Our Soccer menyebut, Haringga menjadi korban tewas ke-7 dalam sejarah pertandingan antara Persib dan Persija. Bahkan selama 23 tahun, tercatat ada 56 fans sepak bola Indonesia tewas secara mengenaskan. Sedangkan berdasarkan data Liputan6.com, pada rentang tahun 1994-2011 tercatat sebanyak 26 orang tewas dan meningkat jumlahnya pada rentang tahun  2012-2018 menjadi 46 orang korban tewas. Menurut Peneliti Hukum Olahraga Eko Noer Kristiyanto, aksi keji itu terus terulang karena tidak adanya solusi yang konkret. Jalan keluar yang ditawarkan hanya mempertemukan para pentolan klub yang kemudian diminta bersalaman. Padahal di akar rumput ini sebetulnya ada dendam.

Aksi-aksi anarkis yang menyebabkan jatuhnya korban jiwa seperti sikap fanatisme terhadap suatu klub sepak bola, sudah sepatutnya mendapat perhatian dan penanganan yang lebih serius dari aparat aparat penegak hukum terkait. Pertandingan olahraga seperti sepak bola seharusnya menjadi ajang yang mampu menggelorakan semangat para pemainnya untuk berjuang mengharumkan daerah maupun klubnya, namun dengan adanya pemberitaan mengenai tindak anarkis hingga adanya korban jiwa dari supporter klub tertentu dapat mencoreng image persepakbolaan di Indonesia. Disisi lain, hal ini tentu saja melanggar hak  hidup seseorang.


Tindakan mediasi dan berakhir jabat tangan antar supporter tidak akan membuahkan hasil untuk jangka panjang, aksi supporter antara klub sepak bola tertentu tetap saja akan berulang dari tahun ke tahun.Hal ini seperti sudah mengakar dalam diri suporter hingga diturunkan pada generasi setelahnya. Dalam kasus semacam ini perlu ada penanganan atau regulasi kusus yang dibuat pemerintah mengenai aturan teknis dalam pertandingan sepakbola. Aturan teknis tidak hanya mengenai aturan main dan otoritas pemain pemainnya melainkan juga terhadap supporter antara tim yang bersangkutan. Selain itu perlu diadakan evaluasi lebih lanjut mengenai pengawasan aparat terkait ketika pertandingan berlangsung.

Menurut saya, pemberian efek jera seperti kurungan penjara maupun hanya mediasi saja tidak akan efektif untuk supoter klub sepak bola yang sudah mengakar dalam diri mereka. Tindakan yang berdampak besar harus mendapat konsekuensi yang bersar pula, pembuatan aturan baru perlu dilakukan. Seharusnya Tim sepak bola dengan supporter yang anarkis dan berbuat kericuhan harus mendapatkan pengurangan point atau bahkan dinonaktifkan dari dunia persepakbolaan dalam jangka waktu tertentu. Hal ini dapat mengubah perilaku supporter anarkis dalam bersikap, apabila mereka tidak menginginkan tim favoritnya mendapatkan sanksi yang tegas mereka juga harus bida menjaga sikap dan perilaku antar supoter. Tindakan pencekalan oknum tertentu hanya akan membuat anggota supporter lainnya semakin memendam kebencian yang mengakar kepada lawannya.

Tujuan utama dari permainan sepakbola tidak pantas dinodai oleh ulah oknum oknum suporter yang anarkis hingga berbuntut panjang. Namun, meskipun demikian eksistensi supporter itu sendiri juga tidak boleh dihapus atau dibubarkan begitu saja  karena hakikatnya mereka adalah penyemangat dari para pemain untuk memperebutkan prestasi dalam dunia persepakbolaan.  Dalam Pembahasan diatas dapat disimpulkan bahwa konflik antar suporter di Indonesia dilatarbelakangi oleh beberapa faktor dari semua elemen yang masuk dalam suatu persepakbolaan di Indonesia, tidak hanya dari suporter saja, melainkan dari tim sepak bola serta lembaga dan pemerintah yang mengurusi persepakbolaan tersebut. Tidak sedikit konflik yang terjadi antar suporter di Indonesia yang mengakibatkan banyaknya korban jiwa dan rusaknya sarana dan prasarana umum yang tentu saja merusak citra klub terkait dan persepakbolaan Indonesia di mata dunia Internasional

Persatuan dan kesatuan Indonesia runtuh akibat adanya konflik antar suporter di Indonesia hingga seakan nilai yang terkandung pada sila ke-3 dalam Pancasila tidak ada pengaruhnya bagi kita selaku warga negara. Bukan hal yang mudah menciptakan perdamaian antar suporter di Indonesia saat ini, sudah banyak solusi yang dilakukan akan tetapi tidak tepat guna dalam memberikan solusi di saat seperti ini.

Ditulis oleh Isna windi astari

Tinggalkan Balasan