Loading...
Opini

Gunung Kidul : Darurat Hak Pendidikan Terbengkalai

Angka putus sekolah di Kabupaten Gunungkidul dinilai masih tinggi. Banyak masyarakat yang enggan untuk melanjutkan ke jenjang pendidikan lebih tinggi. Alasannya dipengaruhi oleh faktor ekonomi. “Terjadi penurunan angka putus sekolah, namun jumlah kisaran masih tinggi,” ujar Kepala Disdikpora Kabupaten Gunungkidul, Bahron Rasyid, Jumat (2/3/2018). Berdasarkan data dari Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) Kabupaten Gunungkidul, hingga kini angka putus sekolah untuk jenjang Sekolah Dasar mencapai tiga persen atau sebanyak 1.710 dari 57.000 siswa. Sementara untuk jenjang Sekolah Menengah Pertama (SMP), angka putus sekolah mencapai tiga persen atau 810 dari 27.000 anak. Untuk jenjang Sekolah Menengah Atas maupun Kejuruan (SMA/SMK) hingga enam persen atau 1.620 anak putus sekolah dari total 27.000 anak. Bahron mengatakan, tingginya angka putus sekolah ini disebabkan oleh faktor ekonomi.

Anak-anak yang mengalami putus sekolah tergolong dalam kategori keluarga kurang mampu. Mereka pun memilih untuk bekerja dibandingkan sekolah yang membutuhkan banyak biaya. “Kebanyakan karena alasan ekonomi, mereka enggan sekolah dan memilih bekerja,” ujarnya.Namun di balik itu, Bahron menilai ada faktor lain yang juga memicu tingginya angka putus sekolah. Seperti pengaruh dari lingkungan sekitar yang mendorong sang anak malas melanjutkan sekolah.


Kurangnya pemahaman tentang arti penting dari pendidikan di daerah tersebut harus diperbaiki. Menurut UUD 1945 pasal 31 yang yang intnya semua waga negara Indonesia berhak pendidikan yang layak dan wajib mengikuti pendidikan dasar tanpa terkecuali. Seharusnya pasal tersebut harus direalisasikan kepada seluruh masyarakat agar kualitas pendidikan di Indonesia meningkat.

 

 

 

Pendidikan tentu sangat penting bagi suatu bangsa. Seperti sejarah hancurnya Kota Hirosima dan Nagasaki di Jepang oleh bom atom Amerika Serikat, yang pertama dicari dan diselamatkan yaitu semua guru di sana. Guru begitu disanjung dan dihormati. Kita dapat melihat betapa pendidikan sangat diperhitungkan, tidak heran negara Jepang sekarang sangat maju. Kita dapat mencontoh sisi positif negara tersebut walaupun dulu Jepang pernah menjajah Indonesia.

Alasan faktor ekonomi sebenarnya tidak tepat karena sekarang ini pendidikan sudah didukung oleh pemerintah dengan sistem sekolah gratis dan banyaknya beasiswa yang ada. Kalau menurut saya, yang menyebabkan tingginya angka putus sekolah adalah kesempitan warga dalam berfikir. Diantara mereka berfikir sekolah itu mahal, lebih baik bekerja dapat uang daripada sekolah hanya terus mengurangi uang saja. Padahal, banyak beasiswa jika mereka berniat dan mau mencarinya. Kebanyakan dari warga tidak mengetahui pentingnya pendidikan.

Pendidikan diarahkan bagi seluruh rakyat dengan perhatian utama pada rakyat yang kurang mampu agar dapat juga mengembangkan moral yang lebih baik sebagai generasi penerus bangsa. Apabila masih banyak orang yang kurang berkependidikan , bagaimana kelanjutan bangsa ini di masa kedepan? Siapakah yang akan menggantikan para pemimpin kelak jika bukan generasi muda.

Pendidikan tidak dilhat hanya dari materi saja, namun juga pendidikan moral. Penanaman pendidikan moral yang baik sejak dini akan menghasilkan bibit – bibit unggul untuk masa depan. Jika anak sudah memliki moral yang baik, mereka akan mudah diberi ilmu – ilmu pengetahuan dan akan memahaminya bukan menghafalkannya seperti kasus anak – anak sekarang. Banyak anak yang nilainya baik, tetapi karena hasil dari mencontek. Anak yang mencotek akan berpotensi menjadi koruptor suatu saat nanti. Itulah conoth jika anak tidak diberikan pendidikan moral.

 

 

 

Pendidikan selalu berubah dan berkembang secara progresif seiring berjalannya waktu. Tujuan diadakannya proses pendidikan di Indonesia yaitu untuk mencerdaskan kehidupan bangsa seperti yang tercantum di pembukaan UUD 1945.  Seharusnya tidak ada lagi warga yang putus sekolah di Indonesia. Tidak ada juga orang yang akan menghalang – halangi warga untuk bersekolah karena itu melanggar hak untuk bersekolah dan akan terkena sanki bagi pelakunya.

Untuk mencapai bangsa yng maju, bermoral , dan sejahtera maka diperlukan kualitas pendidikan yang baik dan sesuai. Pendidikan itu penting agar bisa meningkatkan moral dan kecerasan bagi penerus bangsa. Bangsa yang akan menguasai dunia adalah bangsa yang cerdas dan bermoral, karena awal dari kemajuan bangsa dilihat dari kualitas masyarakatnya.

 

Ditulis Oleh Reza Dwiki

Tinggalkan Balasan