Loading...
Opini

Keresahan Perilaku Penyimpangan Remaja

Remaja merupakan sebuah kata yang mengandung berbagai macam kesan. Ada sebagian orang yang berkata bahwa remaja merupakan kelompok yang biasa saja, tidak berbeda dengan kelompok lain. Sementara ada juga yang mengatakan bahwa remaja adalah kelompok orang-orang yang sering menyusahkan orang tua. Pada pihak lainya lagi, ada yang mengatakan bahwa remaja sebagai potensi yang dapat dimanfaatkan. Namun demikian, ketika remaja sendiri yang berbicara, remaja akan mengatakan hal lain. Remaja mungkin akan berbicara ketidak-acuhan, atau ketidak-pedulian orang-orang dewasa terhadap kelompok. Adapula remaja yang mengatakan bahwa kelompoknya berada pada tingkatan minoritas yang memiliki dunianya sendiri dan sukar dijamah oleh orang-orang dewasa.

Remaja merupakan periode peralihan dari masa kanak menuju dewasa dengan melibatkan semua perkembangan yang dialaminya (Hanifah & Kusyogo, 2012). Remaja mencakup individu dengan usia 10-19 tahun (World Health Organization). Hasil sensus penduduk tahun 2010 menunjukan jumlah penduduk Indonesia sebesar 237,6 juta jiwa, 63,4 juta diantaranya adalah remaja yang terdiri dari laki-laki sebanyak 32.164.436 jiwa dan perempuan sebanyak 31.279.012 jiwa (Pusat Penelitian dan Pengembangan Kependudukan-BKKBN, 2011).


Perkembangan remaja meliputi karakteristik fisik, psikologis, dan sosial yang berhubungan langsung dengan kepribadian, seksual, dan peran sosial. Perkembangan pada masa remaja digambarkan sebagai the onset of pubertal growth spurt (masa kritis dari perkembangan biologis) serta the maximum growth age. Hurlock (1999) menyebutkan bahwa masa remaja merupakan masa dimana seeorang individu mengalami peralihan dari satu tahap ke tahap berikutnya dan mengalami perubahan baik emosi, tubuh, minat, pola perilaku, dan juga penuh dengan masalah-masalah. Perubahan yang paling menonjol adalah perubahan fisik terutama organ-organ seksualnya. Remaja mulai menaruh minat pada lawan jenis dan pada hal-hal yang berbau seksualitas, terkadang diikuti dengan berbagai macam perilaku yang mengarah pada perilaku seksual. Remaja dengan rasa keingintahuanya yang sangat besar memiliki kecenderungan untuk mencoba segala sesuatu yang baru termasuk aktifitas-aktifitas seksual.

Perkembangan remaja meliputi karakter fisik, psikologi dan social yang berhubungan langsung dengan kepribadian, seksual, dan peran social remaja (Dewi, 2009). Aspek karakteristik fisik berupa perubahan bentuk tubuh, mimpi basah bagi remaja laki-laki, menstruasi pada remaja perempuan dan kematangan reproduksi. Aspek psikologis seperti memiliki keingintahuan yang besar, menyukai petualangan, tantangan dan cenderung berani menanggung risiko atas perbuatanya tanpa didahului pertimbangan yang matang. Aspek social dapat dilihat dari mudahnya terpengaruh oleh lingkungan sekitarnya (Stanhope & Lancaster, 2004). Ketiga aspek tersebut dapat menempatkan remaja sebagai kelompok beresiko terhadap perkembanganya, salah satunya yang berhubungan dengan perkembangan perilaku seksual.

Fenomena perilaku seksual remaja seperti maraknya pergaulan bebas semakin meningkat dari tahun ke tahun. Banyak media cetak maupun media elektronik yang membahas tentang pergaulan bebas remaja yang menjerumus kearah perilaku seksual.

Pemenuhan keingintahuan yang tinggi ini diperoleh dari membahas dengan teman sebaya, buku-buku (perkembangan hormone, organ seksualitas, novel remaja,  dsb), majalah (majalah remaja, majalah dewasa seperti majalah playboy), internet (menonton video porno secara online, melakukan seks secara online/seks maya, foto atau paparan sex), serta melakukan eksploritasi seksualitas dengan onani, masturbasi, hingga intercourse dengan lawan jenis (Santrock, 2006).

Perilaku seksual merupakan segala tingkah laku yang didorong oleh hasrat seksual, baik bagi lawan jenis maupun sesama jenis. Bentuk tingkah laku seksual bias bermacam-macam, mulai dari perasaan tertarik sampai tingkah laku berkencan, bercumbu, dan bersenggama. Objek seksualnya bisa berupa orang lain, orang dalam khayalan atau diri sendiri (Sarwono, 2010).

Taufik dkk. (2005) mendefinisikan perilaku seksual merupakan perilaku yang melibatkan sentuhan secara fisik anggota badan antara pria dan wanita yang telah mencapai pada tahap hubungan intim yang dilakukan oleh pasangan suami istri. Penyebab utama dari perilaku tersebut pada remaja adalah dorongan biologis (sexul drive) yang sudah tidak dapat dibendung dan dilakukan semata-mata untuk memperkokoh komitmen berpacaran, memenuhi keingintahuan dan sudah merasa siap melakukanya serta merasakan afeksi dari pasangan atau partner seks. Perilaku seksual memiliki arti yang bermacam-macam mulai dari berpegangan tangan hingga berhubungan badan. Perilaku seksual merupakan perilaku yang didasari oleh dorongan seksual atau kegiatan untuk mendapatkan kesenangan organ seksual melalui berbagai perilaku yang biasanya diawali dengan necking, petting, hingga melakkan hubungan intim (Santrock, 2003).

Perubahan sosial mulai trelihat dalam pemenuhan kebutuhan seksual termasuk remaja yang mulanya meyakini perilaku seksual sebagai sesuatu yang sakral menjadi tidak sakral lagi dan ditambah dengan pengetahuan remaja yang masih rendah sehingga membuka kesempatan untuk sikap permisif terhadap perilaku seksual (Salisa, 2010). Hal ini menunjukan pemberian pendidikan seksual menjadi penting karena remaja berada dalam otensi seksual aktif yang berkaitan dengan dorongan seksual dipengaruhi hormon, informasi yang tidak memadai, dan dapat berdampak negative seperti kehamilan tidak diinginkan (KTD), penyakit menular seksual (PMS) termasuk HIV/AIDS, serta aborsi (Geckova, 2011).

Di era keterbukaan informasi seperti sekarang ini memungkinkan terjadinya berbagai fenomena perilaku seksual remaja. Beberapa sumber dengan sengaja mengungkap fenomena-fenomena yang terjadi kepada khalayak seperti halnya fenomena yang dilansir oleh situs www.antaranews.com . Situs tersebut memberikan informasi tentang tingkat hubungan seksual pranikah dikalangan para generasi muda. Pemberitaan tersebut berdasarkan penelitian oleh PBKI(Paguyuban Keluarga Berencana Indonesia) pada tahun 2005 di beberapa daerah, hasil penelitian tersebut menunjukan sekitar 62.000.000 remaja di indonesia terdapat sekitar 15% dari remaja tersebut telah melakukan aktifitas seksual yang melampaui batas hingga melakukan hubungan suami istri tanpa adanya ikatan pernikahan. Aktifitas seksual yang diungkap dalam penelitian tersebut berawal dari berciuman bibir, meraba, hingga “petting” (menempelkan alat kelamin), hingga melakukan hubungan seks. Penelitian oleh Annisa Foundation pada tahun 2006 yang melibatkan siswa SMP dan SMU di Cianjur (Jabar) juga menunjukan sebanyak 42,3% pelajar telah melakukan hubungan seksual. Penelitian juga dilakukan oleh Synovate Research pada September 2004 tentang perilaku seksual remaja di empat kota besar yaitu Jakarta, Bandung, Surabaya, dan Medan pada remaja usia 15-24 tahun menunjukan bahwa 44% responden mengaku pernah mempunyai pengalaman seks di usia 16-18tahun dan 16% mengaku pengalaman seks itu sudah dilakukan pada usia 13-15tahun. Selain itu, rumah menjadi tempat favorit sebesar 40% untuk melakukan hubungan seks, dan sisanya 26% di tempat kos, 26% di hotel, dan 8% di lain-lain. Hasil penelitian tersebut cukup memberikan gambaran perilaku seks bebas dikalangan remaja saat ini. Seks bebas telah merusak mental para remaja, selain itu seks bebas juga menimbulkan dampak kesehatan yang cukup berat seperti kehamilan, HIV (Human Immunodeficiency virus) dan AIDS (Aquired Imuno Deficiency Syndrom) Susanti (2008).

Perilaku seksual remaja ini tidak hanya ditemui di kota-kota besar saja namun juga mulai ditemui di kota-kota berkembang seperti di Yogyakarta. Hal ini diperkuat dengan adanya hasil penelitian dari kepala BKKBN Sugiri Syarief (2010) di yogyakarta, dari 1.160 mahasiswa sekitar 37% mengalami kehamilan sebelum menikah. Perkembangan infrastruktur maupun sosial yang cukup pesat menjadikan arus globalisasi mulai merambah masuk wilayah Yogyakarta. Arus globalisasi disamping membawa dampak positive juga membawa dampak negtiv pada pergaulan remaja. Banyak remaja yang sudah tidak malu-malu lagi untuk bermesraan di depan umum bahkan dilingkungan sekolah.

Banyak faktor yang mempengaruhi timbulnya masalah perilaku seks dikalangan remaja. Faktor-faktor tersebut antara lain faktor biologis, pengaruh teman sebaya, pengaruh orang tua, akademik, pemahaman, pengalaman seksual, pengalaman dan penghayatan nilai-nilai keagamaan, kepribadian, pengetahuan mengenai kesehatan reproduksi (Pratiwi, 2004). Salah satu faktor yang menyebabkan remaja mudah melakukan pergaulan bebas dikarenakan sarana dan prasarana yang tersedia. Akibat mudahnya remaja mendapatkan prasarana atau informasi yang kurang tepat menyebabkan remaja mudah melakukan perilaku seksual yang menjermuskan remaja ke perbuatan yang kurang terpuji, memudarnya moral dalam diri remaja, membuat remaja sering melanggar norma-norma yang ditentukan oleh aturan masyarakat atau agama.

Informasi mengenai seks yang diperoleh remaja melalui berbagai sumber seperti tayangan televisi, media cetak, internet, teman sebaya, maupun sumber-sumber informasi yang lain  yang kurang tepat, dapat mendorong remaja untuk melakukan perilaku seksual yang menyimpang.

Pergaulan bebas dikalangan remaja yang menjurus pada perilaku seksual merupakan suatu hal yang wajar jika ditinjau dari perkembangan fisiologisnya yang menuju sempurna dan perkembangan sosialnya yang membuka kesempatan bagi mereka untuk menjalin hubungan heteroseksual. Akan tetapi, tanpa disadari fenomena perilaku seksual remaja tersebut telah semakin berkembang hingga diluar batas kewajaran. Hal ini sedikit banyak juga dipengaruhi oleh adanya gaya hidup bebas yang telah masuk dalam kehidupan seksual remaja. Masalah seksual merupakan masalah yang pelik bagi remaja, karena masa remaja merupakan masa dimana seseorang dihadapkan pada berbagai tantangan dan masalah, baik masalah perkembangan ataupun lingkungan.

Tinggalkan Balasan