Loading...
Opini

Prahara NYIA Picu Diskriminatif Kaum Minoritas

Awal mula rencana pembangunan bandara di Kulon Progo sebenarnya sudah ada sejak pemerintahan bupati periode sebelumnya yaitu pada saat bupati baru. Pada penghujung 2011 mulai muncul isu akan dibangunya bandara baru di Kulon Progo. Pada tahun 2012 isu pembangunan bandara di Kulon Progo semakin terdengar, dan mulai menimbulkan pertentangan di masyarakat (pro dan kontra).

Setidaknya 5 tahun belakangan ini masyarakat Kulon Progo di Kecamatan Temon kabupaten Kulon Progo mengalami pergolakan, karena disebabkan oleh adanya pembangunan bandara baru di Kulon Progo, yang nantinya akan menggantikan bandara lama yaitu Bandara Adisutjipto sebagai bandara komersil. Sedikitnya ada lima desa yang terdampak pemabangunan bandara di Kulon Progo yaitu Desa Palihan, Glagah, Sindutan, Kebonrejo, dan Desa Jangkaran. Dari lima desa itu ada dua desa yang memang terkena dampak paling luas yaitu Desa Palihan dan Glagah.


Pembangunan bandara baru di Yogyakarta tentunya memiliki beberapa faktor diantaranya: Pertama, Kapasitas terminal Bandara Adisutjipto tidak mampu lagi menampung pesawat yang take off and landing. Adapun daya tampung Bandara Adisutjipto adalah 1,2 s.d 1,5 juta, sedangkan jumlah per 2014 sudah mencapai 6,2 juta penampung.

Kedua, transportasi udara yang baru di Yogyakarta memang dirasa perlu. Mengingat Yogyakarta sebagai destinasi para wisatawan baik mancanegara maupun lokal, memerlukan jasa transportasi yang efektif, efisiensi, dan nyaman.

Ketiga, Bandara Adisutjipto adalah milik Pangkalan TNI AU yang sebenaranya bukan untuk komersil, sehingga tidak jarang ketika TNI AU mengadakan latihan pesawat penerbangan domestik terganggu sehingga adanya delay atau penundaan baik ketika pesawat mau turun maupun terbang.

Menurut kami, dengan dibangunnya bandara baru ini pasti menuai pro dan kontra. Diantaranya dengan adanya pembangunan bandara baru dapat meningkatkan kunjungan lokal maupun mancanegara yang akan membawa dampak peningkatan ekonomi warga. Jika wisatawan meningkat, kedepannya dapat dikembangkan potensi-potensi wisata di Kulonprogo termasuk pelatihan usaha kecil menengah yang ada di sekitar bandara, sehingga tidak hanya terpusat di pusat kota pertumbuhan wilayahnya namun juga dapat merata.

Pembangunan tersebut tak lupa juga membawa banyak dampak negative, seperti memudarnya nilai budaya dan tradisi Kota Jogja. Hal ini disebabkan oleh kemajuan IPTEK khusunya infrastruktur dengan sangat cepat, dengan adanya fasilitas publik fital yang baru dapat mengundang para infenstor yang menanamkan sahamnya seperti halnya pembangunan hotel-hotel dan mall di sekitar bandara yang seakan tak terbendung di kota Yogyakarta. Hal itu membuat timbulnya gaya hidup konsumerisme dan kapitalisme, menghilangkan karakter budaya Masyarakat Yogyakarta yang sederhana. Masyarakat kini lebih bangga belanja di supermarket dibandingkan berbelanja di pasar tradisional. Predikat kota budaya kian lama kian hilang ke-ciri khasannya yang semakin lekang tergerus oleh kemajuan zaman.

Kota Jogja yang dulunya dikenal dengan nilai-nilai kesederhanaan, tradisional, dan ke-ramah tamahan, kini sudah berubah menjadi kota dengan hiruk-pikuk manusia yang sangat padat tentunya membuat Kota Jogja menjadi kota yang tidak rileks dan nyaman. Namun perubahan kondisi ini adalah proses transformasi perubahan kebudayaan yang kian lama kian hilang budaya lokalnya. Sehingga masyarakat Yogyakarta terancam tercabut dari akarnya jika tak mampu melawan arus kemajuan zaman yang sangat cepat dengan tidak memegang teguh nilah moral dan budayanya serta kepentingan ekonomi yang berkuasa, aroganisme manusia merajalela, serta para pejabat yang tidak mempunyai jiwa sederhana dan lebih mengunggulkan rasio dibanding rasa.

Solusi untuk permasalahan ini bagi pemerintah adalah berhafap pemerintah mampu memperimbangkan jika akan dilakukan lagi pembangunan bandara baru di lahan yang digunakan rakyat besar untuk mencari pekerjaan dan tidak di pemukiman padat penduduk agar tidak adanya kerugian bagi pihak masyarakat dan tidak menguras biaya yang sangat tinggi untuk membeli lahan.

Solusi bagi masyarakat yang terkena dampak proyek ini adalah diharapkanya bagi warga yang terkena dampak relokasi lahan pendirian bandara baru untuk diminta partisipasinya sebagai proses pembebasan lahan, agar pembangunan bandara baru dapat segera terselesaikan sehingga proses ganti rugi pun dapat juga terwujud nantinya. Tak hanya itu, semoga masyarakat dapat mengerti bahwa pembangunan mega proyek ini pun tentu memiliki alasan demi kemajuan negara khususnya di Daerah Istimewa Yogyakarta.

Ditulis Oleh Siswa SMADABA

Rafky Risyad Wibisana dan Tathaka Eutara

Tinggalkan Balasan