Loading...
Materi PembelajaranPembelajaran

Pengembangan Materi Pendapat Pendiri Negara Terhadap Dasar Negara Indonesia

PENDAPAT PENDIRI NEGARA TENTANG DASAR NEGARA

BPUPKI mulai bekerja pada tanggal 28 Mei 1945, dimulai upacara pembukaan dan pada keesokan harinya dimulai sidang-sidang (29 Mei – 1 Juni 1945). Yang menjadi pembicaranya adalah Mr. Muh. Yamin, Mr. Soepomo, Drs. Moh. Hatta, dan Ir. Soekarno. Sayang sekali notulen sidang pertama sebanyak 40 lembar telah hilang dan sampai sekarang belum ditemukan, sehingga banyak catatan sejarah sidang tersebut tidak diketahui bangsa Indonesia. Hanya beredar saksi hidup dapat diurut garis-garis besar yang diicarakan dalam sidang tersebut.


  1. Isi Pidato Mr. Muh Yamin

Di dalam bukunya Naskah Persiapan Undang-Undang Dasar 1945, dikatakan bahwa pada tangga 29 Mei 1945 itu beliau berpidato tentang rancangan usulan dasar negara sebagai berikut (Rukiyati, 2008: 46):

  1. Peri Kebangsaan
  2. Peri Kemanusiaan
  3. Peri Ketuhanan
  4. Peri Kerakyatan
  5. Kesejahteraan Rakyat

Tetapi notulen pidato Mr. Muh Yamin ini tidak terdapat di dalam arsip nasional.

  1. Isi Pidato Mr. Soepomo

Sidang tanggal 31 Mei 1945 mengetengahkan pembicaraan Mr. Soepomo. Di dalam pidatonya Mr. Soepomo menjelaskan bahwa dasar pemerintahan suatu negara bergantung pada staatside yang akan dipakai. Menurut Mr. Soepomo, di dalam ilmu negara ada beberapa aliran pikiran tentang negara yaitu (Rukiyati, 2008:46-48):

Pertama, aliran pikiran perseorangan (individualis). Menurut alam pikiran ini negara ialah masyarakat hukum (legal society) yang disusun atas kontrak seluruh orang dalam masyarakat itu (kontrak sosial). Susunan negara ini terdapat di Eropa Barat dan Amerika.

Kedua, aliran pikiran tentang negara berdasar teori golongan (class theory). Pemikiran ini tumbuh karena negara dianggap sebagai alat dari suatu golongan (suatu kelas) untuk mennindas kelas lain, oleh karena itu para Marxis menganjurkan revolusi politik untuk merebut kekuasaan.

Ketiga, aliran pikiran ini lainnya: teori integralistik yang diajarkan Spinoza, Adam Muller, Hegel dll (abad 18-19). Menurut pikiran itu negara tidak menjamin kepentingan seseorang atau golongan tetapi kepentingan masyarakat sepenuhnya. Negara tidak memihak golongan yang besar atau yang paling kuat, tetapi menjamin kepentingan dan keselamatan hidup bagi seluruhnya sebagai persatuan yang tidak dapat dipisahkan.

Setelah memaparkan ketiga teori tersebut Soepomo menawarkan kepada hadirin untuk memilih aliran pikiran mana yang akan digunakan dari ketiganya itu. Kemudian Soepomo sendiri mengusulkan bahwa tiap-tiap negara memiliki keistimewaan sendiri-sendiri. Beliau menolak faham individualistis demikian juga susunan negara Soviet Rusia yang bersifat diktator ploretariat bertentangan dengan sifat Indonesia yang asli.

Prinsipnya, persatuan antara pimpinan dan rakyat, prinsip persatuan dalam negara seluruhnya menurut Soepomo ini cocok dengan aliran ketimuran dan masyarakat Indonesia. Semanagat kebatinan dari bangsa Indonesia adalah persatuan hidup, persatuan kawulo dan gusti, dunia luar, dunia batin, mikrokosmos dan makrokosmos, rakyat dan pimpinan. Pemimpin sejati sebagai petunjuk jalan cita-cita yang luhur yang diidamkan rakyat (Rukiyati, 2008: 48).

Selanjutnya, pada tanggal 31 Mei 1945, Soepomo menyampaikan pidatonya tentang dasar negara. Menurut Soepomo, dasar negara Indonsia merdeka adalah sebagai berikut:

  1. Persatuan
  2. Kekeluargaan
  3. Keseimbangan lahir dan batin
  4. Musyawarah
  5. Keadilan rakyat
  1. Isi Pidato Ir. Soekarno

Pada hari keempat sidang BPUPKI, tanggal 1 Juni 1945, Ir. Soekarno mendapat giliran menyampaikan gagasannya mengenai dasar-dasar bagi negara Indonesia. Menurut Ir. Soekarno, dasar bagi Indonesia merdeka adalah dasarnya suatu negara yang akan didirikan yang disebutnya philosophische grondlag, yaitu fundamen, filsafat, jiwa, pikiran yang sedalam-dalamnya yang di atasnya akan didirkan gedung Indonesia yng merdeka. Setiap negara mempunyai dasar sendiri-sendiri demikian pula hendakanya Indonesia.

Selanjutnya Ir. Soerkarno (Rukiyati, 2008: 49) mengusulkan kepada sidang bahwa dasar bagi Indonesia merdeka itu disebut Pancasila, yaitu:

  1. Kebangsaan (Nasionalisme)
  2. Kemanusiaan (Internasionalisme)
  3. Musyawarah, mufakat, perwakilan
  4. Kesejahteraan sosial
  5. Ketuhanan yang berkebudayaan

Jika anggota tidak setuju dengan rumusan yang lima di atas, maka rumusan itu dapat diperas menjadi tiga yang disebutnya Trisila, yaitu:

  1. Sosio-nasionalisme
  2. Sosio-demokrasi
  3. Ketuhanan

Rumusan Trisila dapat pula diperas menjadi satu sila yang disebut oleh Ir. Soekarno sebagai Ekasila, yaitu gotong royong. Menurut Ir. Soekarno gotong royong adalah ide asli bangsa Indonesia.

 

Sumber

Lukman Surya Saputra dkk. 2016. Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan Kelas VII SMP.  Jakarta: Pusat Kurikulum dan Perbukuan, Balitbang, Kemdikbud

Rukiyati. 2008. Pendidikan Pancasila. Yogyakarta: UNY Press

Nilai Karakter

Nasionalis

Tinggalkan Balasan